ZAKAT PERTANIAN, MADU, PRODUKSI HEWANI, BARANG TAMBANG DAN HASIL LAUT

  1. ZAKAT PERTANIAN (BUAH-BUAHAN DAN BIJI-BIJIAN)[1]

 

Syarat pada buah-buahan dan biji-bijian ialah hendaknya telah menguning, atu memerah, dan biji-bijian bisa dilepas dari kulitnya, karena Allah SWT.  Berfirman : ‘’dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya).’’ (al-An’am:141). Nasab buah-buahan danbiji-bijian adalah lima Wasaq, dan Satu  wasaq adalah lima puluh sha’ dan satu Sha’ ialah empat Mud (satu Mud kira-kira 4 ons), karena Rosulullah bersabda: ‘’Tidak ada zakat pada harta kurang dari lima wasaq.’’(Mutafaq ‘Alaih), besar zakatnya jika diairi  tanpa alat misalnya dengan air di akar-akarnya, atau dengan air mata air dan sungai ialah seper sepuluh. Jadi zakat buah-buahan dan biji-bijian diairi dengan alat misalnya timba dan lain sebagainya, zakatnya adalah seperdua puluh. Jadi zakat buah-buahan dan biji-bijian untuk lima wasaq ialah seperempat wasaq, karena Rosulullah bersabda ; Pada yang diairi langit, atau yang minum dari akar-akarnya adalah seper sepuluh, dan pada yang diairi dengan unta ialah seperdua puluh.’’

Catatan:

  1. Barang siapa mengairi tanamannya sekali dengan alat dan sekali tidak dengan alat besar zakat tanamannya ialah tiga perempat dari seper sepuluh, itulah yang dikatakan para ulama’. ‘’saya tidak mengetahui perbedaan pendapat didalamnya’’.
  2. Semua jenis kurma digabungkan  menjadi satu, jika mencapai nishab, maka dizakati.
  3. Jika masing-masing dari zaitun atau biji lobak,atau ketumbar mencapai nishab, maka dizakati dari zaitun.
  4. Semua jenis kacang digabung menjadi satu jika mencapai senishab, maka dizakati
  5. Jenis-jenis anggur digabung menjadi satu dan jika jumlahnya mencapai nishab maka harus dizakati. Jika dijual sebelum menjadi anggur kering, maka zakatnya dikeluarkan dari hasil penjualannya, yaitu seper sepuluh  atau seperdua puluh sesuai dengan jenis pengairannya.
  6. Padi, jagung dan tembakau adalah jenis tersendiri. Jadi tidak digabungkan dengan yang lain. Jika masing.-masing dari ketiga jenis tanaman tersebut mencapai nishab, maka tida terkena kewajiban zakat.
  7. Barang siapa menyewa lahan tanah, menanaminya dan hasilnya mencapai nishab, maka ia wajib menzakatinya.
  8. Barang siapa memiliki buah-buahan, atau biji-bijian  yang telah masak dari sumber manapun dari hasil hibah,beli, warisan maka ia tidak wajib menzakatinya. Karena kewajiban zakatnya harus dibayar pembeli hibah atau penjualnya. Jika ia memilikinya sebelum masak, ia wajib menzakati.
  9. Barang siapa yang memiliki hutang yang menghabiskan seluruh hartanya atau mengurangi nishabnya, ia tidak terkena kewajiban zakat.

 

 

  1. ZAKAT MADU[2]

 

Diperselisihkan riwayat dari beliau tentang masalah zakat madu. Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya, ia berkata:  Hilal, yaitu salah seorang dari bani Mut’an datang kepada Rosulullah SAW, dengan membawa sepersepuluh hasil madu dari lebah miliknya. Seelumnya ia meang pernah meminta kepada beliau agar melindungi sebuah lembah yang dimnamai salabah untuknya. Ketika Umar bin Khathab dilantik sebagai khalifah sufyan bin wahb, menulis surat kepadanyamenanyakan tentang masalah tersebut. Maka Umar membalas suratnya dengan mengatakan :’’ jika ia membayar kepadamu apa yang dulu ia bayarkkan pada Rosulullah  SAW, berupa sepersepuluh madu dari lebahnya, maka lindungilah untuknya lembah salabah itu. Dan kalau tidak maka lebah itu merupakan lebah hujan yang  bisa dimakanoleh siapa saja yang menghendakinya.’’ Dalam suatu riwayat pada hadits ini disebutkan, ‘’dari setiap sepuluh kantong, satu kantong.’’ ( HR. Abu Daud dan an-Nasai).

Dalam Musnad Imam Ahmad tertulis riwayat dari abu sayyarah al-mu’ti, ia berkata,’’saya katakan, wahai rosulullah, saya mempunyai lebah?’’ Beliau Bersabda: ‘’bayarkan sepersepuluh dari hasilnya’’. Saya katakan wahai Rosulullah, lindungilah untukku.’’ Maka ia melindungi untuknya. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

 

v  Argumentasi Ulama’ yang Mengatakan Madu Tidak Ada Zakatnya:[3]

  • Kalangan ulama’ berbeda pendapat tentang sejumlah hadits ini dan hukumnya. Al-Bukhori mengatakan, tidak ada sedikitpun keterangan yang shohih tentangn zakat madu.
  • Imam Al-Tirmidzi mengatakan, tidak ada keterangan yang shohih dari nabi SAW dalam bab ini sedikitpun.
  • Ibnu Al-Mundzir mengatakan, tidak terdapat pada kewajiban shodaqoh  dari madu, suatu hadits yang valid dari Rosulullah SAW dan tidak pula Ijma’. Jadi, tidak ada zakat padanya.
  • Imam As-Syafi’i menyatak, hadits yang menyebutkan pada madu ada kewajiban sepersepuluh adalah dhoif, dan pada keterangan yang tidak boleh diambil darinya sepersepuluh juga dhoif kecuali dari Umar bin Abdul Azis.

Mereka ini menyatakan, beberapa hadits yang mewajibkan, semuanya cacat. Hadits Ibnu Umar berasal dari riwayat Shadqoh bin Abdullah bin Musa bin yasar bin nafi’ darinya. Sedangkan shadqah dinyatakan dhoif  oleh Imam Ahmad, Yahya bin Main dan lain-lain. Al- Bukhori mengatakanshadqqah tidak ada apa-apanya dan hadits ini munkar.

v  Argumentasi Ulama’ yang Menetapkan Madu Ada Zakatnya[4]

Imam Ahmad, Abu Hanifah, serta sejumlah ulama’ lain berpendapat, bahwa didalam madu terdapat zakatnya.

Mereka memandang, bahwa beberapa atsar yang ada saling menguatkan satu sama lain. Memang beragam sumbernya dan bermacam-macam jalurnya. Namun, riwayat yang mursal dikuatkan dengan riwayat yang musnad (ada sanadnya lengkap).

Abu Hatim Ar-Razi pernah ditanya tentang Abdullah, ayah Munir dari Saad bin Abu Dzuhab,’’Apakah Shohih Haditsnya?’’ ia menjawab, ‘’Ya’’.

Mereka menambahkan,’’berhubung madu itu keluar dari cahaya pohon dan bunga, lagu pula bisa ditakar dan disimpan lama, maka menjadi wajiblah zakat padanya, seperti halnya biji-bijian dan buah-buahan’’. Mereka mengatakan; beban biaya dalam mengambilnya dibawah beban biaya pada tanaman dan buah-buahan. Orang-orang yang mewajibkan adanya zakat pada madu, berbeda pendapat apakah ada atau tidak? Tentang hal ini ada dua pendapat:

è Pertama; zakat madu wajib, baik pada jumlah madu yang banyak atau yang sedikit. Ini merupakan pendapat dari Abu Hanifah.

è Kedua; zakat pada madu mempunyai nisab tertentu. Kemudian diperselisihkan tentang kadarnya. Abu yusuf berkata; ‘’ukuran minimumnya sepuluh kati (rithl).

Muhammad bin Al-Hasan mengatakan, ‘’kadarnya lima faraq’’. Sedang satu faraq itu sama dengan tiga puluh enam kali di Irak. Imam Ahmad mengatakan; ‘’nisabnya sepuluh faraq’’. Kemudian kawan-kawannya berbeda pendapat tentang faraq dalam tiga versi:

è Pertama; Ukurannya enam puluh kati.

è Kedua; Tiga puluh enam kati.

è Ketiga; Enam belas kati. Perkatan yang terakhir ini adalah perkataan zhahir dari Imam Ahmad.a zakat mustaghalat (harta yang dimiliki untuk diambil untuk mendapatkpemasukan) seb

  1. ZAKAT HASIL TAMBANG

 

Hasil tambang emas dan perak, apabila sampain satu  nisab, wajib dikeluarkan zakatnya pada waktu itu juga dengan tidak disyaratkan sampai satu tahun, sepeti  pada biji-bijian dan buah-buahan. Zakatnya 1/40 (2,5persen).

‘’bahwasanya Rosulullah SAW. Telah mengambil sedekah  (zakatnya) dari hasil tambangdi negri Qabaliyah. (HR. Abu Daud dan Hakim).

Nabi bersabda: pada emas dan  perak zakat keduaanya seperempat puluh (2,5 persen).[5]

 

Hasil tambang tidak disyaratkan haul, zakatnya wajib dibayar ketika barang itu telah digali. Hal ini mengingat bahwa haul disyaratkan untuk menjamin perkembangan harta, sedang dalam hal ini perkembangan tersebut telah terjadi sekaligus, seperti dalam zakat tanaman. Barang tambang yang digali sekaligus harus memenuhi nisab begitu juga yang digali secara terus-menerus , tidak terputus karena diterbengkalaikan. Semua hasil tambang yang digali secara terus-menerus harus digabung untuk memenuhi nisab. Jika penggalian itu terputus karena suatu hal yang timbul dengan tiba-tiba, seperti reparasi peralatan atau berhentinya tenaga kerja, maka semua itu tidak mempengaruhi keharusan menggabungkan semua hasil galian. Bila galian itu terputus karena beralih profesi, karena pertambangan sudah tidak mengandung barang tambang yang cukup atau sebab lain, maka hal ini mempengaruhi penggabungan yang satu dengan yang lain

Termasuk dalam barang tambang semua hasil yang digali dari daratan atau pun dari dasar laut, sementara yang dikeluarkan dari laut itu sendiri, seperti mutiara, ambar dan marjan, harus dizakati seperti zakat komoditas dagang.[6]

Tabel Zakat Tambang

No. Jenis Tambang Nisab Kadar Zakat Waktu Penyerahan Keterangan
1 Tambang emas senilai 91,92 gram emas murni 2,5% Tiap tahun
2 Tambang perak Senilai 642 gram perak 2,5% Tiap tahun
3 Tambang selain emas dan perak, seperti platina, besi, timah, tembaga, dsb. Senilai nisab emas 2,5% Ketika memperoleh Menurut mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’I, wajib dizakati apabila diperdagangkan (dikatagorikan zakat perdagangan). Menurut mazhab Hanafi, kadar zakatnya 20 %
4 Tambang batu-batuan, seperti batu bara, marmer, dsb. Senilai nisab emas 2,5 Kg Ketika memperoleh Menurut mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafi’I, wajib dizakati apabila diperdagangkan (dikatagorikan zakat perdagangan).
5 Tambang minyak gas Senilai nisab emas 2,5 Kg Ketika memperoleh Sda.

 

  1. D.    ZAKAT HASIL LAUT[7]

Jumhur ulama berpendapat bahwa hasil laut, baik berupa mutiara, merjan (manik- manik), zabarjad (kristal untuk batu permata) maupun ikan, ikan paus, dan lain-lainnya, tidak wajib dizakati. Namun Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali) berpendapat bahwa hasil laut wajib dikeluarkan zakatnya apabila sampai satu  nisab. Pendapat terakhir ini nampaknya sangat sesuai dengan situasi dan kondisi sekarang ini karena hasil ikan yang telah digarap oleh perusahaan-perusahaan besar dengan peralatan modern menghasilkan uang yang sangat banyak. Nisab ikan senilai 200 dirham (672 gram perak). Mengenai zakat hasil laut ini memang tidak ada landasannya yang tegas, sehingga di antara para ulama sendiri terjadi perbedaan pendapat. Namun jika dilihat dari surah al-Baqarah ayat 267, jelas bahwa setiap usaha yang menghasilkan uang dan memenuhi syarat, baik nisab maupun haulnya, wajib dikeluarkan zakatnya. Adapun waktu mengeluarkan zakatnya sama seperti tanaman, yaitu di saat hasil itu diperoleh.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Jazairi  Abu Bakr Jabir. Ensiopedi Muslim. Jakarta: Darul Falah, cet-10, 2006

Rasjid Sulaiman . Fiqh Islam. Bandung: Sinar Baru, 1987

Aljauziyah Ibnu  Qoyyim. Zadul Ma’ad. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008

http://id.wikipedia.org/wiki/Zakat_Hasil_Tambang

http://chamzawi.wordpress.com/sumber-zakat/

 

Penghitungan zakat produksi susu

Terkadang, tujuan orang memelihara ternak adalah untuk produksi susu dan menjualnya (bukan untuk diperbanyak), sehingga dikenakan

 


[1] Lht. Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. Ensiopedi Muslim. Hal : 405

[2] Lht. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah. Zadul Ma’ad. Hal: 496

[3] Lht. Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah. Zadul Ma’ad. Hal: 497

[4] Lht. Ibid. Hal: 499

[5] Lht. H Sulaiman Rasjid. Fiqh Islam. Hal ; 196

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s