TINDAK PIDANA PENGGELAPAN DAN PENIPUAN DALAM KUH-PIDANA

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Tindak pidana penggelapan (verduistering ) diatur dalam Bab XXIV Pasal 372 sampai dengan pasal 377 KUHP. Menurut Laminating, tindak pidana sebagaimana tersebut sebagai ‘’penyalahgunaan kepercayaan’’. Sebab, inti dari tindak pidana yang diatur dalam Bab XXIV tersebut adalah ‘’penyalahgunaan hak’’. Atau ‘’penyalahgunaan kepercayaan’’.

Menurut Laminating, dengan penyebutan tersebut, akan memberikan kemudahan bagi setiap orang untuk mengetahui perbuatan apa yang sebenarnya dilarang dan diancam pidana dalam ketentuan tesebut.

Adapun dalam tindak pidana penipuan ini diatur dalam Bab XXV KUHP. Dalam arti yang luas tindak pidana ini disebut bedrog. Dalam bab XXV bedrog terdiri dari berbagai macam bentuk tindak pidana penipuan yang diatur mulai pasal 378 sampai dengan pasal 395 KUHP.

Menilik banyaknya kasus kejahatan yang terjadi dikalangan masyarakat, tentunya kita sangat prihatin. Bahkan, kasus yang menimpa istri polisi ini sungguh sangat memalukan. Sebagai istri penegak hukum seharusnya dapat memberikan tauladan yang baik kepada masyarakat, tetapi apa yang telah dilakukan oleh Sulasmi adalah hal yang tidak pantas ditiru.

Dalam penyidikan petugas, Sulasmi ditetapkan sebagai terdakwa kasus penggelapan uang milik rekan bisnisnya senilai Rp 386 juta. Wanita setengah baya berumur 35 tahun ini telah menipu ketiga rekan kerjanya. Diketahui, kasus istri Bintara ini dilaporkan polisi pada Desember 2009 lalu. ‘’pelapornya tiga orang, yakni Elok Kusuma Wardani, Yuliati dan Siti Jaridin.’’ Kata Iwan dipersidangan yang dipimpin oleh ketua Majelis Hakim Heri Widodo.

Ketiga korban mengaku uangnya dikemplang Sulasmi sebesarRp 386 juta. Kerugian terbesar dialami Elok, istri polisi yang berdinas di Polresta Malang, sebesar Rp 300 juta. Sedangkan Yuliati sebesar Rp 54 juta dan siti Rp 34 juta, ujar Iwan. Dalam kasus ini akan dibahas secara tuntas dalam makalah ini.

 

  1. Rumusan Masalah

Adapun pokok bahasan yang akan kita pelajari adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah kronologis kejadian perkara?
  2. Apa modus terdakwa dalam melakukan tindak pidana?
  3. Dalam pasal apa saja terdakwa dikenakan hukum? Dan apa saja unsur – unsur yang melanggar hukum?
  4. Apa hukuman yang diberikan kepada terdakwa?
    1. Tujuan

Tujuan disusunnya makalah adalah sebagai berikut :

  1. Agar kita dapat mengambil pelajaran atau ibroh dari analisis kasus ini.
  2. Agar kita dapat mengetahui hal – hal yang mengandung unsur – unsur tindak pidana tentang penggelapan dan penipuan.
  3. Agar mengetahui hukuman apa yang akan diberikan kepada para pelaku tindak pidana penggelapan dan penipuan.
  4. Agar kita tidak terjebak kedalam tindak pidana penggelapan dan penipuan
    1. Manfaat

Adapun manfaat yang dapat kita ambil dari kasus ini adalah ebagai berikut :

  1. Dengan mempelajari atau menganalisis kasus ini, kita dapat lebih waspada dengan tidak kejahatan yang ada di sekitar kita.
  2. Dengan mempelajari kasusini kita dapat memilah antara tindak pidana penggelapan dan penipuan.
  3. Dengan mempelajari kasus ini kita dapat lebih mengetahui unsur – unsur  pidana yang terkandung dalam kasis ini.
  4. Dengan mempelajari kasus ini kita dapat lebih mengetahui hukuman yang diterima para pelaku tindak pidana penggelapan dan penipuan.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Kronologi Kejadian Perkara

Seorang anggota bhayangkari (istri polisi) harus berurusan dengan hukum karena menggelapkan uang milik rekan bisnisnya senilai Rp 386 juta. Kasus yang menimpa sulasmi, 35, istri polisi yang dinas di Polres Malang ini, baru terungkap kemarin saat untuk kali pertamanya duduk dikursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Malang sebagai terdakwa.

Dalam sidang terbuka untuk umum ini, diketahui jaksa penuntut umum (JPU) Iwan Winarso mendakwa sulasmi dengan pasal berlapis 379 (a), 372 dan 378 KUHP tentang penggelapan. Ancaman yang diterima adalah hukuman penjara diatas lima tahun.  Selama penyidikan dikepolisian, Sulasmi ditahan di polresta. Saat disidangkan, ia menjadi tahanan titipan kejaksaan di LP Wanita Sukun.

Diketahui, kasus istri Bintara ini dilaporkan polisi pada Desember 2009 lalu. ‘’pelapornya tiga orang, yakni Elok Kusuma Wardani, Yuliati dan Siti Jaridin.’’ Kata Iwan dipersidangan yang dipimpin oleh ketua Majelis Hakim Heri Widodo.

Ketiga korban mengaku uangnya dikemplang Sulasmi sebesarRp 386 juta. Kerugian terbesar dialami Elok, istri polisi yang berdinas di Polresta Malang, sebesar Rp 300 juta. Sedangkan Yuliati sebesar Rp 54 juta dan siti Rp 34 juta, ujar Iwan.

Dalam menjalankan aksinya, Sulasmi yang bertempat tinggal di Jl. Jaksa Agung Suprapto, Kota Malang ini, berkedok menjalankan bisnis sembako, penjualan kue, dan pakaian. Caranya, Sulasmi mengambil barang ketiga korban diatas dengan cara berhutang. Barang-barang diatas langsung dijual kembali oleh Sulasmi dan sudah memperoleh pembayran. Sayangnya, uang pembayaran dari para pembeli itu tidak dibayarkan ke korban.

Elok misalnya, untuk kulakan sembako yang ia jual ke Sulasmi harus menggadaikan sertifikat rumahnya ke bank. Sehingga ketika Sulasmi tidak  membayar utang, rumah Eko disita bank.

Selain pembacaan dakwaan, agenda sidang kemarin juga langsung dilakukan pemeriksaan saksi. Elok yang bersaksi dipersidangan itu matanya hingga berkaca – kaca ketika memberikan keterangan akibat perbuatan terdakwa.

  1. Modus Terdakwa

Dalam menjalankan aksinya, Sulasmi yang bertempat tinggal di Jl Jaksa Agung Suprapto, Kota Malang ini, berkedok menjalankan bisnis sembako, penjualan kue, dan pakaian. Caranya, Sulasmi mengambil barang ketiga korban diatas dengan cara berhutang. Barang-barang diatas langsung dijual kembali oleh Sulasmi dan sudah memperoleh pembayran.

  1. Unsur – Unsur Tindak Pidana

Dalam sidang terbuka untuk umum ini, diketahui jaksa penuntut umum (JPU) Iwan Winarso mendakwa sulasmi dengan pasal berlapis 379 ( a ), 372 dan 378 KUHP tentang penggelapan.

Pasal 379 ( a ) : ‘’Barangsiapa menjadikan pencarian atau kebiasaan membeli barang, dengan maksud mendapat barang itu untuk dirinya atau untuk orang lain, dengan tidak membayar lunas di[idana dengan pidana penjara selama – lamanya empat tahun’’.

Yang diancam hukuman dalam pasal ini adalah orang yang menjadikan pencarian atau kebiasaan membeli barang dengan tidak membayar lunas, dengan maksud memperoleh barang itu untuk dirinya sendiri atau orang lain.

Unsur – unsur penting yang perlu dibuktikan dalam pasal ini adalah :

  1. Perbuatan itu harus dilakukan sebagai pencarian atau kebiasaan, apabila perbuatan itu hanya dilakukan sekali saja, belum dapat dikatakan sebagai pencarian atau kebiasaan. Pembelian barang seperti itu harusdilakukan berulan-ulang dan pada beberapa toko. Dalam kasus yang dilakukan Sulasmi mengambil barang ketiga korban diatas dengan cara berhutang. Barang-barang diatas langsung dijual kembali oleh Sulasmi dan sudah memperoleh pembayaran. Sayangnya, uang pembayaran dari para pembeli itu tidak dibayarkan ke korban.
  2. Pada waktu melakukan pembelian, harus sudah ada maksud akan tidak membayar lunas. Dalam menjalankan aksinya, Sulasmi yang bertempat tinggal di Jl. Jaksa Agung Suprapto, Kota Malang ini, berkedok menjalankan bisnis sembako, penjualan kue, dan pakaian. Caranya, Sulasmi mengambil barang ketiga korban diatas dengan cara berhutang. Barang-barang diatas langsung dijual kembali oleh Sulasmi dan sudah memperoleh pembayran. Sayangnya, uang pembayaran dari para pembeli itu tidak dibayarkan ke korban.

 

Pasal 372 : ‘’Barangsiapa dengan sengaja dan dengan melawan hukum memiliki barang, yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain, dan yang ada padanya bukan karena kejahatan, dipidana karena penggelapan, dengan pidana penjara selama – lamanya empat tahun atau denda sebanyak – banyaknya sembilan ratus rupiah’’.

Kejahatan ini dinamakan ‘’penggelapan biasa’’. Penggelapan adalah kejahatan yang hampir sama dengan pencurian dalam pasal 362, hanya bedanya kalau dalam pencurian barang yang diambil untuk dimiliki itu belum berada ditangannya si pelaku, sedang dalam kejahatan penggelapan, barang yang diambil untuk dimiliki itu sudah berada ditangannya si pelaku tidak dengan jalan kejahatan atau sudah dipercayakan kepadanya.

Adapun unsur – unsur yang terkandung dalam pasal ini adalah :

  1. Unsur obyektif yaitu :

~ Sengaja melawan hukum. Dalam kasus ini Sulasmi telah melakukan tindakan melawan hukum, yaitu  berkedok menjalankan bisnis sembako, penjualan kue, dan pakaian.

~ Penggelapan. Sulasmi harus berurusan dengan hukum karena menggelapkan uang milik rekan bisnisnya senilai Rp 386 juta.

~ Sesuatu barang. Barang yang digunakan oleh terdakwa berupa sembako yang dihutang dari para korbannya, setelah dijual uangnya tidak dikembalikan kepada rekan bisnisnya yang ia hutangi.

  1. Unsur subyektifnya adalah : Dengan sengaja, yaitu menguasai barang yang sudah ada ditangannya ( dalam kekuasaannya ) secara melawan hukum.

Pasal 378 : ‘’Barangsiapa dengan maksud hendak menguntumgkan dirinya atau orang lain dengan melawan hukum, baik dengan memakai nama palsu, baik dengan tipu muslihat, maupun dengan rangkaian kebohongan, membujuk orang untuk memberikan suatu barang atau supaya membuat utang atau menghapuskan piutang, dipidana karena penipuan dengan pidana penjara selama – lamanya empat tahun’’.

Yang diancam dalam pasal ini ialah orang yang membujuk orang lain supaya memberikan suatu barang atau supaya membuat utang atau menghapuskan piutang dengan melawan hukum.

Adapun unsur – unsur yang terkandung dalam pasal tentang penipuan ini adalah :

  1. Unsur – unsur obyektif :

~ Mengngerakkan, Yaitu menggunakan tindakan – tindakan ,baik berupa perbuatan – perbuatan maupun perkataan – perkataan yang bersifat menipu. Dalam hal ini Sulasmi berkedok menjalankan bisnis sembako.

~ Untuk menyerahkan suatu barang / benda, yaitu ketika korban menyerahkan barang kepada Sulasmi yang berhutang kepadanya.

~ Untuk memberi hutang, dalam kasus Sulasmi tidak terdapat unsur ini.

~ Untuk menghapus piutang, yaitu setelah Sulasmi menjual barang yang diperolehnya dengan cara berhutang, ia tidak menyerahkan hasil penjualannya kepada ketiga korban.

~ Dengan menggunakan daya upaya seperti :

  1. Memaki nama atau,
  2. Martabat palsu
  3. Dengan tipu muslihat
  4. Rangkaian kebohongan

Unsur yang b, c, dan d termasuk dalam pelanggaran yang dilakukan oleh Sulasmi, yaitu ketika ia berkedok menjalankan bisnis sembako, sedangkan unsur memakai nama palsu tidak termasuk.

 

 

 

  1. Unsur – unsur subyektif :

~ Dengan maksud, yaitu kejahatan yang dilakukan dengan sengaja dan memiliki maksud / tujuan tertentu. Jika dikaitkan dengan kesengajaan, maka termasuk dalam dolus Premiditatus, yaitu kesengajaan yang disertai dengan rencana terlebih dahulu.

~ Untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Penggelapan yang dilakukan Sulasmi hanya menguntungkan diri sendiri dan mungkin juga keluarganya. Adapun para korban sangat dirugikan.

~ Secara melawan hukum. Jika melihat semua unsur – unsur diatas tentunya apa yang telah dilakukan Sulasmi telah melawan hukum yang telah di tetapkan dalam KUH – Pidana.

  1. Hukuman Yang Diberikan Kepada Terdakwa

Dalam sidang terbuka untuk umum ini, diketahui jaksa penuntut umum (JPU) Iwan Winarso mendakwa sulasmi dengan pasal berlapis 379 (a), 372 dan 378 KUHP tentang penggelapan. Ancaman yang diterima adalah hukuman penjara diatas lima tahun.  Selama penyidikan dikepolisian, Sulasmi ditahan di polresta. Saat disidangkan, ia menjadi tahanan titipan kejaksaan di LP Wanita Sukun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :

  1. Jaksa mendakwa sulasmi dengan pasal berlapis 379 (a), 372 dan 378 KUHP tentang penggelapan, ancaman yang diterima adalah hukuman penjara.
  2. Dalam menjalankan aksinya, Sulasmi yang bertempat tinggal di Jl Jaksa Agung Suprapto, Kota Malang ini, berkedok menjalankan bisnis sembako, penjualan kue, dan pakaian.
  3. Jika dikaitkan dengan unsur tindak pidana menurut doktrin ilmu hukum, kasus ini meliputi semua aspek – aspeknya yaitu perbuatan, yang dilarang dan ancaman pidana.
  4. Kasus ini termasuk dalam salah satu bagian asas ekstradisi yaitu asas kejahatan rangkap
  5. Saran

Mengenai hal ini penulis mengharapkan kepada para  pembaca yang budiman agar :

  1. Kita  semua harus menjahui hal – hal yang mengandung unsur – unsur pidana, baik dari sisi hukum positif maupun hukum Islam.
  2. Kita semua lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena dengan begitu kita akan selalu merasa diawasi dan takut apabila melakukan perbuatan melanggar hukum.

BAB IV

Daftar Pustaka

~ Radar Malang, edisi 30 maret.

~ SH. R. Sughandi, 1980. KUHP dan Penjelasannya, Usaha Nasional Offset Printing : Surabaya.

~ SH., M.Hum. Tongat, 2003. Hukum Pidana Materiil, UMM Press : Malang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s